Menuju Kaltim Baru
TANGGAL 14 Oktober 2009, untuk pertama kalinya Kabupaten Tanah Tidung menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Inilah era baru bagi daerah hasil pemekaran Kabupaten Bulungan itu. Dengan terpilihnya bupati dan wakil bupati baru, rakyat yang jumlahnya hanya sekitar 20 ribu jiwa itu meletakkan harapan tercapainya kemakmuran.
Berturut-turut kemudian sejumlah daerah di Kalimantan Timur menyelenggarakan Pilkada. Dimulai dari Kutai Kartanegara yang rencananya menggelar pada 1 Mei 2010 dan kemudian disusul Kota Samarinda pada bulan September 2010. Kabupaten Bulungan, Bontang, Paser dan Berau juga menyusul kemudian. So, pada tahun 2011 ada Pilkada di Kutai Barat, Malinau dan Nunukan.
Praktis selama dua tahun ke depan sudah ada pemimpin baru. Persoalannya; apakah para calon pemimpin baru nanti sudah membawa konsep perubahan, sebab rakyat nampaknya sudah jenuh dengan kondisi politik yang tidak memberikan pengaruh terhadap peningkatan kualitas hidup mereka.
Ya, harapan itu masih ada. Sejumlah nama yang muncul bakal menjadi kandidat memberikan harapan. Tinggal rakyat yang menentukan pilihan. Mau pilih yang gagah, tapi tidak punya isi silakan. Mau pilih birokrat yang bersih tak tersangkut korupsi silakan. Mau pilih pengusaha juga monggo.
Mau pilih kandidat yang bagi-bagi uang juga menjadi hak rakyat pemilih. Hanya memang patut diingatkan politik uang adalah tindakan para politisi busuk yang nantinya – jika menang – akan berusaha mencari pengembalian uangnya dari kekuasaan yang dimilikinya. Ia akan menjadi vampir penghisap APBD (anggaran pendapatan dan belanja daerah) atau memainkan izin, yakni menerima suap dari para pengusaha yang mengurus izin.
Karena praktik-praktik penguasa bermental korup itu membuat negeri ini terpuruk. Pemimpin dan kelompoknya berjaya dengan kekuasaan dan kebijakannya, tetapi melakukan pembiaran terhadap rakyat miskin. Simak data-data angka kemiskinan di Kaltim yang tidak memberikan perbaikan signifikan sejak reformasi bergulir tahun 1998.
Laporan kubu pemerintah memang selalu memberikan angka perubahan penurunan terhadap angka kemiskinan. Misalnya dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltim, dalam siaran persnya pernah merilis data kemiskinan bahwa hingga Maret 2009 di Kaltim adalah sebesar 239,22 ribu (7,73 persen). Angka itu lebih rendah dibandingkan dengan Maret 2008 lalu yang mencapai 286,44 ribu (9,51 persen). Artinya, menurut versi BPS, angka penduduk miskin di Kaltim selama setahun ini menurun sebesar 47,22 ribu.
Faktanya selalu ada perbedaan pendapat mengenai angka kemiskinan ini. Versi pemerintah yang cenderung diragukan, karena traumatis pada zaman Orde Baru di mana penyuguhan data hanya untuk menyenangkan hati pimpinan alias Asal Bapak Senang (ABS). Sementara versi Bank Dunia kategori miskin adalah mereka yang berpendapatan di bawah US$ 2/hari atau Rp 18.000,00/hari. Mengikuti versi Bank Dunia, maka diyakini semakin besar jumlah orang miskin di Kalimantan Timur.
Menuju Kaltim baru memang seolah muluk-muluk. Sebab faktanya perubahan tak dimulai dari hulunya, yakni Pemprov Kaltim. Padahal dari struktur pemerintahan provinsi inilah harapan perubahan itu sangat besar. Ibaratnya, benahi dulu kepalanya baru kemudian badan dan kakinya.
Pemprov Kaltim di bawah pemerintahan Awang Faroek Ishak ternyata tidak memberikan harapan akan perubahan yang signifikan. Bahkan menjelang setahun masa kepemimpinannya justru mulai kelihatan ketidakmampuan mengelola pemerintahan. APBD Kaltim tahun 2010 yang mestinya memiliki ’roh’ aspirasi rakyat ternyata disahkan tanpa adanya konsultasi publik. Bahkan program-program dalam APBD yang disahkan oleh anggota DPRD Kaltim menjelang berakhirnya masa jabatan, tak lebih hanya ”copy paste” alias menjiplak dokumen APBD tahun-tahun sebelumnya.
Memprihatinkan memang pemerintahan di Kaltim. Selalu tidak sesuai pernyataan dan komitmen para pemimpinnya dengan fakta-fakta lapangan. Masih seperti zaman Orde Baru yang mengedepankan kehendak kekuasaan, misalnya dalam hal rencana membangun Freeway di ruas jalan baru Balikpapan – Kutai Kartanegara – Samarinda.
Rakyat Kaltim tak patut putus asa, optimisme tetap harus dibangun. Dimulai dari Pilkada yang bakal digelar diseluruh daerah Kaltim. Ayo pilih pemimpin yang punya visi melayani rakyat. Bukan pemimpin yang kerjanya copy paste. **
(sumber : bongkar.co.id )

